Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Judul                : Character Building (HC)

Penulis             : Erie Sudewo

Tebal buku        : xvi + 289 hal

Ukuran             : 13×20,5 cm

Penerbit           : Republika

Harga               : Rp. 85.000,-

ISBN                 : 978-602-8997-29-4

Siapa tak kenal dengan Dompet Dhuafa (DD). Sebuah lembaga nirlaba milik masyarakat indonesia yang mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF. Dibalik kesuksesannya terdapat salah seorang aktor yang luar biasa.  Dialah Erie Sudewo, sang penulis buku Character Building . Erie Sudewo merupakan mantan Presiden Direktur Dompet Dhuafa yang baru-baru ini mendapat anugerah sebagai Social Enterpreneur dari lembaga terkemuka Ernst & Young 2009. Erie Sudewo dinilai telah turut berperan besar menjadikan Dompet Dhuafa, lembaga filantropi yang pernah dipimpinnnya, menjadi “The Biggest NGO in Indonesia.”

Dalam bukunya pertamanya ini , Erie Sudewo menekankan betapa penting sebuah pendidikan karakter bagi bangsa ini. Sebuah pendidikan yang kini sudah langka di negeri ini, bagaimana tidak? Kini negeri kita semuanya serba terbolak balik. Orang jahat malah bisa jadi pahlawan. Koruptor tak lagi risih dan malu di tayangkan media berhari-hari. Penjual asset negara tetap jadi terhormat.

Pendidikan karakter kini sulit kita temukan dalam sekolah.  Hampir semua sekolah di dunia, fokus pada peningkatan kompetensi. Pendidikan karakter dilupakan. Kalaupun ada sebatas mempelajari, bukan mendidik jadi lebih baik. Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia berkata “Banyak yang tahu bahwa orang lain harus berubah tetapi sedikit yang tahu, bahwa diri merekalah yang seharusnya berubah”. Melalui buku ini Erie Sudewo mengajak kita mendidik karakter diri agar menjadi manusia yang lebih baik. Dalam bukunya ini, Erie membagi karakter ke dalam tiga kelompok. Lanjut Baca »

Gambar

  1. ILMU adalah warisan para NABI, sedangkan HARTA adalah warisan QARUN
  2. ILMU menjaga pemiliknya, sedangkan HARTA dijaga oleh pemiliknya
  3. Orang yang berILMU banyak sahabatnya, orang yang banyak HARTA banyak musuhnya
  4. ILMU kalau diberikan akan bertambah, sedangkan HARTA kalau diberikan akan berkurang
  5. ILMU tidak dapat dicuri, sedangkan HARTA mudah dicuri dan dapat lenyap
  6. ILMU tidak akan binasa, sedangkan HARTA akan habis karena waktu dan usia
  7. ILMU tidak ada batasnya, sedangkan HARTA ada batasnya dan dapat dihitung jumlahnya
  8. ILMU memberi dan memancarkan sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan hati serta menenangkan jiwa, sedangkan HARTA dapat menggelapkan jiwa dan hati pemiliknya
  9. Orang yang berILMU mendapat sebutan mulia seperti ‘ALIM’, ULAMA, CENDEKIA,dll sedangkan orang yang banyak HARTA lebih cenderung kepada sifat kikir dan bakhil
  10. Orang yang berILMU mendorong untuk mencintai ALLAH, sedangkan HARTA membangkitkan rasa sombong, congkak dan takabur.
 
via : Ali Bin Abu Thalib Ra.

Tersiakan

Detik demi detik.

Menit demi menit.

Jam demi jam.

Hari demi hari,

bulan demi bulan.

Bahkan ,

tahun demi tahun.

telah begitu banyak yang telah kau sia-siakan.

Tak mungkin memintanya untuk kembali

Karena Ia tak akan memalingkan sedikitpun wajahnya

 

Ketika ia disampingmu, kau tak menganggapnya berarti

Kini ia telah pergi, semakin jauh meninggalkanmu

Sendiri dalam kesepian

 

Canda tawa kala itu kini telah menghilang

Hanya ratap  tangis kesedihan tersisa

Diam bukanlah pilihan

Merelakannya adalah yang terbaik

 

Dan kini telah datang yang lain

Janganlah kau sia-siakan

Jadikanlah ia teman terbaik dalam hidupmu

Karena engkaulah yang dapat memilihnya

Aku Rindu Zaman itu

Oleh: K H Rahmat Abdullah

Aku Rindu Dengan Zaman Itu

Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,

bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,

bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,

bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,

bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,

bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,

bukan su’udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini

Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat

adalah kelalaian

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh

dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dawah di desa sebelah

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,

Aku rindu…

Ya ALLAH,

Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama

Semua Ada Saatnya

  Judul buku

Penulis

Penerjemah

Penerbit

Tebal Halaman

Tahun Terbit

ISBN

: Semua Ada Saatnya

: Syaikh Mahmud Al-Mishri

: H. Abdul Somad, Lc, MA.

: Pustak Al Kautsar

: xxviii + 364 hlm

: 2011

: 978-979-592-573-6

Hidup itu tidak selamanya serius. Adakalanya rehat sejak dari kesibukan hidup. Rehat dari kesibukan memberikan gairah baru dalam mengarungi hidup. Seperti halnya Al Quran yang tak semuanya berisi perintah dan larangan saja. Banyak kisah hikmah yang menjadi selingannya sebagai pelajaran dan hiburan bagi hati yang jenuh. Begitu luar biasanya Al Quran diturunkan, Allah maha tahu atas segala hal di dunia ini, termasuk tabiat dari manusia.

Buku “Semua Ada Saatnya” seperti halnya kisah-kisah dalam Al Quran. Buku menjadi selingan dalam kesibukan kita. Buku ini mampu memberikan suntikan-suntikan energy baru ketika kita lelah.  Kisah-kisah hikmah di dalamnya seolah menyadarkan kita bahwa segala sesuatu pasti ada saatnya.

Seperti salah satu kisah dalam buku ini. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa ada mobil seorang pemuda yang masuk ke bawah truk besar, api menyala di dalamnya. Kemudian orang-orang berusaha mengeluarkan pemuda tersebut dan penasaran atas apa yang telah terjadi pada pemuda tersebut.  Ketika pemuda  tersebut berhasil dikeluarkan ternyata pemuda tersebut selamat dan tak ada sedikit pun luka yang dialaminya. Lanjut Baca »

Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.
Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.
Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.
Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, “Siapa yang membunuh unta miliku ini?” sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.
Lanjut Baca »

Teringat dengan film Tai Chi Master. Film yang menceritakan perjalanan dua orang sahabat dari kuil Shaolin. Jun Bao dan Tian Bao, berkelana keluar kuil setelah cukup lama belajar di sana. Dari film ini minimalnya saya mendapatkan dua buah pelajaran yang begitu berarti.

Bagian pertama yang saya dapatkan ketika menonton film ini yaitu ketika Jun Bao sang tokoh utama mengalami tekanan mental yang sangat berat. Tekanan tersebut diberikan oleh sahabatnya sendiri, Tian Bao. Sahabat yang sangat ia percayai bahkan telah Ia anggap sebagai kakak. Karena ketamakan Tian Bao untuk mendapatkan posisi tinggi, Ia rela mengkhianati teman-temannya. Mengorbankan nyawa mereka untuk memenuhi ambisinya. Jun Bao begitu sulit mempercayai kenyataan pahit tersebut.

Saking beratnya tekanan mental yang dialami. Jun Bao kini bagai orang gila. Minum dari comberan bersama bebek, menulis di dinding dan berbicara dengan boneka kayu. Kehilangan kesadaran diri, sebagai alasan berlepas dari kenyataan yang telah terjadi. Hal tersebut tidak membuatnya semakin baik, bahkan kegilaannya semakin menjadi. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.