Betapa malunya saya

Standar

Hujan kembali mewarnai siang hari di kota Bandung, saat itu pula saya tengah berada di dalam angkot kelapa-dago bersama kedua orang teman saya. Kami bertiga naik angkot mulai dari jalan dago dekat masjid Salman sampai depan Mall BIP. Siang ini kami dan beberapa teman lainnya berencana untuk menonton sebuah film di studio 21 yang berada di Mall BIP. Film berjudul “Sang Pencerah”, diangkat dari kisah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang menjadi salah seorang pahlawan Indonesia.

Begitu sampai langsung saja kami masuk dan menonton film tersebut. Selama menonton, tak henti-hentinya ari mata saya keluar begitu saja. Begitu sulit membendung luapan air mata, air mata antara malu dan harap. Malu, melihat diri saya yang sampai detik ini belum bisa memberikan banyak manfaat bagi lingkungan saya, keluarga saya. Malu, mengaku menjadi seorang muslim tapi baru memiliki sedikit  ilmu saja sudah merasa cukup, padahal ilmu yang saya punya hanya yang saya tahu saja, bukan saya cari tahu sendiri, apakah benar atau tidak, sesuai dengan ajaran Rasulullah atau tidak.

Berharap, menjadi salah seorang muslim layaknya KH Ahmad Dahlan, mampu bertahan tatkala gelombang ujian datang menerpa dan mempertahankan prinsip-prinsip Islam yang benar sesuai ajaran Rasulullah. Berharap, menjadi salah seorang dari orang-orang asing yang selama hidupnya berjuang untuk mengagungkan Asma Allah.

Begitulah yang terjadi selama saya menonton film ini, banyak hal menjadi bahan renungan bagi saya. Apakah mungkin saya bisa mengikuti jejaknya jika saya tetap seperti ini? Tidak, jelas saya harus berusaha agar saya bisa sepertinya. Tidak hanya sebuah keinginan dan tekad saja, tetapi harus melakukan sebuah aksi nyata atas tekad tersebut, memperbanyak ilmu dan berusaha memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Dan perjuang ini masihlah panjang, diluar sana masih banyak umat yang membutuhkan bantuan kita. Lalu tugas siapa lagi kalau bukan kitalah yang berusaha untuk mengerti dan memahami Islam untuk memberikan pemahaman islam yang benar kepada mereka. Menjadi bagian dari orang-orang yang turut serta dalam sejarah perjuang, bukan menjadi orang yang terbawa oleh perubahan zaman yang berkembang dengan cepat. “Ya Allah tetapkan lah kami di jalan ini”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s