Sedang berbicara “Cinta”

Standar

Pernahkah sahabat mendengarkan atau membaca kisah Laila Majnun? atau kisah Romeo dan Juliet? Untuk kisah yang kedua kebanyakan dari kita pasti sudah sangat mengetahuinya.  Bagaimana seorang kekasih begitu rela mengorbankan apapun yang dimilikinya bagi seseorang yang amat ia cintai. Begitulah cinta mampu mengubah seseorang yang penakut menjadi orang yang sangat berani, orang yang lemah menjadi kuat. Tapi apa cinta itu? banyak orang berkata bahwa cinta itu sulit untuk di definisikan. Sesuatu yang begitu indah, sampai-sampai banyak hal yang bisa digambarkan sebagai cinta. Memang begitulah cinta, ia selalu mengisi setiap bagian dari kehidupan kita. bahkan Tuhan pun menciptkan dunia dan seisinya karena cintaNya pada kita.

 

Apakah benar cinta itu buta? dimana kita mencintai sesuatu begitu saja tanpa ada hal yang menjadi penyebabnya. Menjadikan orang yang merasakannya bertindak diluar batas kerasionalan, apakah benar demikian? mungkin dari sebagian sahabat sepakat bahwa cinta itu buta, dan sebagiannya berfikir bahwa cinta itu tidak buta. Dan saya tidak menyalahkan salah satu ataupun keduanya. Karena menurut saya Cinta itu rasional alias cinta itu tidak buta, namun ia bisa membuat orang yang memiliki rasa cinta itu menjadi buta. Kenapa cinta itu rasional?

 

Menurut saya ketika seseorang mencintai sesuatu atau seseorang, pasti ada sebabnya. Baik berupa dorongan positif maupun negatif yang membuatnya demikian. Yang pasti ada suatu hal yang sangat menarik dan indah dibalik cinta itu. Salah satunya karena nafsu, dan pada dasarnya nafsu ini adalah fitrah bagi manusia. yang jelas ketika kita tidak mampu mengendalikannya, cinta ini bisa berubah dari yang paling indah menjadi hal yang paling menakutkan. Ketika seseorang mengalaminya maka ada beberapa ciri yang  akan muncul bersamanya. Ketika ia sedang jatuh cinta maka ia banyak menyebut yang dicintainya, akan muncul rasa kagum padanya, Ia ridha atas apa yang dilakukannya, Ia siap berkorban untuknya. Disamping itu ia pun akan merasakan cemas kepadanya, dan pada saat itu ia pula akan mengharapkannya.

 

Namun sangat disayangkan tatkala cinta kita cukupkan hanya pada seseorang. Karena cinta sesuatu adalah hal yang begitu mulia dan begitu indah, alangkah tak pantasnya jika kita tempatkan ia ditempat yang biasa-biasa saja.  Tingkatan  paling rendah baginya adalah ketika kita cinta pada materi, kemudian cinta pada sesama manusia berlandaskan atas rasa simpati, diatas tingkat ini ialah cinta pada sesama muslim dan mukmin. Ibarat satu tubuh, ketika satu sakit maka yang lainnya akan merasakan sakit pula. Selanjutnya cinta pada Rasul, karena dengan adanya beliau kita mengetahui jalan mana yang sebaiknya kita tempuh dan cinta tertinggi adalah pada Allah, Tuhan ynga telah menciptakan dunia dan seisinya bagi kita, termasuk orang yang sangat kita cintai saat ini.

 

Dan pada akhirnya kita harus menerima konsekuensi atas cinta kita. Mencintai apa dan siapa yang dicintai oleh yang kita cintai dan membenci apa dan siapa yang dibenci oleh yang kita cintai. Hal ini pasti akan kita mencintainya. Dan pada dasarnya kitalah yang memilih siapa atau apa yang kita cintai dan menempatkannya dimana. Semoga kita tidak salah menempatkan rasa cinta kita. Agar tidak seperti panglima Tian Feng pada kisah kera sakti ” Beginilah cinta, deritanya tiada pernah berakhir”.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s