Jangan kalah dengan dia

Standar

Dua minggu telah berlalu semenjak kejadian luar biasa yang saya lihat. Ketika itu saya tengah berpergian mengantar kakak saya. Seperti biasa sebagai adik saya harus mengantarkan kemana kakak pergi. Melewati jalan yang sama setiap harinya menjadikan hal yang biasa bagi saya. Sampai suatu hari saya melewati seorang pengemis yang biasa mangkal dibelokan gang yang tidak jauh dari rumah saya.

 

Sering kali saya tidak terlalu memperhatikan pengemis ini ketika melawatinya. Saya hanya lewat begitu saja, tanpa memberikan uang receh sedikit pun. Bagi saya, jika saya memberikan uang kepada pengemis artinya saya membiasakan pengemis tersebut untuk mengemis. Saya berpikir jika saya ingin membantu mereka lebih baik saya berikan lewat lembaga yang terkait. Pada hari ini ternyata menyaksikan sebuah kejadian luar biasa yang membuat hati saya tersentuh.

 

Bagaimana tidak? Ketika saya melewati pengemis yang biasa mangkal dibelokan tersebut saya menyaksikan seseorang memberikan uang kepada pengemis itu. Yang luar biasa disini orang tersebut bukanlah orang berpenampilan layaknya orang pada umumnya. Orang tersebut hanya menggunakan kaos usang, celana kotor dan sandal jepit. Disamping itu orang ini membawa sebuah karung yang ia gunakan untuk mencari nafkah sehari-hari.

 

Yah dari penampilannya itu, saya bisa langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut berprofesi sebagai pemulung. Pekerjaan yang mungkin dipandang orang sebagai perkejaan kelas rendah. Di hari itu  saya berpikir betapa baiknya ia, mau memberikan uangnya kepada pengemis yang hanya meminta-minta untuk mendapatkan uang. Sedangkan orang ini harus mencari barang bekas yang bisa dijualnya.

 

Ketika itupun saya berdoa kepada Allah semoga dimudahkan rizki bagi orang orang tersebut. Yah, kadang untuk memberi uang, saya memilih-milih siapa yang harus saya beri. Padahal hakikatnya dalam memberi bukanlah siapa yang harus saya beri melainkan bagaimana niat saya. Saya teringat akan kisah seorang dermawan yang dimata orang sebagai orang buta. Karena tiap kali ia sedekah, sedekahnya salah sasaran.

 

Hari pertama ia hendak bersedekah ditengah malam ia mengetuk pintu suatu rumah yang keesokan harinya diketahui rumah tersebut adalah rumah orang kaya. Kemudian dihari kedua iapun melakukan hal yang sama, kembali mengetuk suatu rumah untuk memberikan sedekah dan keesokan harinya diketahui bahwa pemilik rumah tersebut adalah rumah seorang pencuri. Dan dihari ketiga ia pun masih melakukan sedekah tersebut seperti hari sebelumnya, walau keesokan harinya diketahui pemilik rumah tersebut adalah seorang tunasusila.

 

Kemudian suatu malam dititipkan mimpi kepadanya bahwa atas sedekahnya orang-orang yang diberi sedekah olehnya telah berubah. Orang yang kaya kini menjadi dermawan, sedangkan pencuri dan tunasusila yang diberi sedekah akhirnya taubat dari kesalahannya.

 

Memang benar segalanya tergantung niat, untuk hasil hanya Allah saja lah yang menentukannya. Serta janganlah khawatir akan harta yang kita sedekahkan karena Allah telah berjanji melipatgandakannya menjadi 700  kali lipat. Jika kita memberikannya dengan niat yang lurus.

One thought on “Jangan kalah dengan dia

  1. Waahhhhh… habis baca ini, rasanya memang harus segera membenahi diri… Orang hebat itu seperti itu.. tanpa pandang bulu… tetapi, menurut saya tetap saja jangan memberi kepada pengemis2 yang mereka jadikan profesi…
    berhentilah meminta jika itu sudah cukup untuk makan sampai malam nanti… itu mungkin yang banyak tidak diketahui oleh pengemis… bahkan mereka mempedulikan hal ini…
    Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s