Untuk kita

Standar

Saat ini, kita ketahui bahwa banyak teman kita yang terkenal religius.  Masih menjalankan agamanya dengan baik. Namun dari kebanyakan teman kita, bisa kita hitung hanya beberapa diantara mereka yang mau terlibat aktif dalam jalan kita. Banyak yang mencukupkan diri hanya dengan mengikuti kuliah agama, kajian dan mentoring saja. Ia pasif dalam memperjuangkan amal maruf nahi munkar. Hanya memberikan waktu sisanya untuk ikut berkontribusi dalam jalan ini. Banyaknya tugas kuliah atau kegiatan menjadi alasan untuk memberikan waktu sisanya.

 

Sesungguhnya jalan ini tidak membutuhkan waktu sisa kita. Ia tidak membutuhkan waktu malas kita melainkan waktu semangat kita, Ia tidak meminta waktu sakit kita melainkan waktu sehat kita, ia tidak menginginkan waktu tua kita melainkan waktu muda kita. Sesungguhnya jalan ini meminta kita untuk memberikan yang terbaik, waktu, semangat dan kondisi terbaik kita. Ingatkah kita pada kisah Abu bakar? Ia memberikan seluruh hartanya dalam memperjuangkan jalan ini. Dan bagaimana dengan Usman? Ia menggunakan hartanya untuk membayar semua kebutuhan di jalan ini. Dan ingatkah kita pada Musab? Pemuda yang begitu tampan, selalu wangi parfum,mengenakan baju mewah, dan menjadi idola wanita dizamannya. Ia telah berikan semua itu hanya untuk jalan ini. Sehingga ketika Ia dipanggil olehNya tak ada kain kafan yang cukup untuk menutupi tubuhnya.

 

Begitulah yang diminta oleh jalan ini. Ia meminta seluruh kemampuan yang kita miliki, bukan sisa-sisa dari kemampuan kita. Dan sekarang pertanyaan yang harus kita jawab adalah sudah berapa banyak kah teman yang talah kita ajak dalam jalan ini? Sudah berapa teman kah yang telah kita bantu kesulitannya selama ini? Telah sejauh mana kita berusaha memahami jalan ini, beramal dan berusaha untuknya? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

 

Dijalan ini kita tidak membutuhkan orang-orang seperti kaum Musa. Menyuruhnya pergi berdua bersama dengan Tuhannya untuk berusaha sedangkan mereka hanya duduk diam menunggu. Bukan kaum seperti itu yang kita butuhkan. Melainkan orang-orang seperti Saad Bin Muadz lah yang kita butuhkan, Ia tidak menonton pemimpinnya untuk berjuang sendirian dan duduk menunggu hasilnya. Namun ia ikut serta berjuang bersamanya. Dan bagaimana dengan kita, apa yang telah kita berikan untuk jalan ini? Sudah berapa banyak yang telah kita persiapkan untuk berjuang dijalan ini?

 

Untuk itu mari kita persiapkan diri. Siapkan diri kita yang terbaik untuk jalan ini. Terus berusaha dalam menambah ilmu dan pemahaman kita. Dengan semakin banyak ilmu yang kita miliki maka semakin banyak pula yang bisa kita berikan. Terus berusaha meningkatkan kualitas amal kita dan tetap istiqomah menjaganya. Dan senantiasa perbaharui niat kita, untuk apa kita berada di jalan ini. Jangan sampai dengan niat yang salah kita berada disini. Sebaik-baiknya hasil yang kita peroleh bergantung kepada niat kita.

 

Kebaikan akan diikuti oleh kebaikan yang lainnya. Begitu juga dengan keburukan, oleh karena itu tetap bersiaga lah, jangan sampai kita lengah terhadap suatu keburukan yang dating. Dan teruslah beusaha, tidak berhenti setelah menyelesaikan suatu hal. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS 94:7).

 

Wallahualam

2 thoughts on “Untuk kita

  1. Fitri Amalia

    terkadang liat yang religius dengan yang ngga tuh perbedaannya gede banget yah,kayak jurang gitu.ga ada jembatannya.saya pernah ada di komunitas religius,bikin saya terlihat eksklusif,padahal niatnnya ngga.Bikin ngerasa bersalah juga,karena susah ngajak orang yang perbedaannya kayak jurang.jadi akhirnya saya memilih untuk jadi jembatan.jembatan sama dengan bunglon,dia bisa diterima dimana saja.Tapi rada bahaya emang…terutama soal terwarnai tea.hm..

    dan saya ngerasa jadi bunglon lebih terlihat langkahnya.bagaimana cara mengajak ke amal2 kecil aja,lbh gampang ngajaknya.gt.dripada religius tapi buat sendiri atau buat orang sebangsanya

    wallahualam

  2. Saya sepakat dengan “terlihat eksklusif bisa menjadi jurang pemisah yang sangat lebar”. maksud dari tulisan ini bukan berarti mereka yang bergabung dijalan ini harus berada dalam komunitas/lembaga yang sama. lebih tujukan bagi mereka yang tidak pernah terfikir untuk mengajak orang lain ke dalam jalan ini. Mengajak dalam kebaikan dan mencegah dari keburukan.

    setiap orang punya caranya sendiri dalam mengambil peran dijalan ini. dan memang saya juga memilih untuk tidak terkesan eksklusif dengan yang lain. prinsipnya berbaur bukan melebur. dan meski demikian setidaknya kita punya lingkungan yang bisa menjaga kita agar tidak melebur. alias alarm pengingat ketika kita mulai menyimpang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s