Kisah sebuah Paku

Standar

Apapun itu, kalo yang namanya sakit pasti rasanya begitu sakit. Khususnya sakit hati, sakit yang lukanya akan terasa selama kita masih bernafas. Seperti halnya kisah seorang anak yang selalu marah setiap hari. Alkisah ada seorang ayah yang selalu bersama bersama anaknya. Ia mengkhawatir kang sang anak yang  kian hari kian  sifat pemarahnya semakin menjadi. Jika terus demikian sang ayah khawatir sikap anaknya ini tak akan pernah berubah selamanya.

Hingga suatu ketika sang ayah berbicara berdua dengan sang anak. Bukan memintanya untuk berhenti bersikap marah namun sang ayah hanya meminta satu hal pada anaknya ini. Yaitu setiap kali anaknya marah ia harus memakukan sebuah paku ke sebuah papan di belakang rumah mereka.

Sang anak pun mengiyakan permintaan ayahnya.Kemudian keesokan harinya, sang anak mulai melakukan apa yang diminta ayahnya. Hari itu sang ayah merasa takjub melihat jumlah paku yang tertancap di papan belakang rumahnya. Karena banyaknya jumlah paku yang tertancap dipapan tersebut.  Seiring berjalannya waktu, jumlah paku yang ditancapkan sang anak kian berkurang jumlahnya dari hari ke hari.

Sampai suatu hari dimana sang anak tidak menancapkan satu paku pun ke papan di belakang rumah. Sang ayah kemudian kembali berbicara berdua dengan sang anak. Bukan pujian yang ia berikan kepada sang anak. Kali ini ia kembali hanya meminta satu hal lagi pada sang anak. Ia meminta sang anak untuk mencabuti satu per satu paku yang pernah ia tancapkan di papan belakang setiap kali sang anak merasakan bahagia.

Dan sang anak pun kembali mengiyakan permintaan ayahnya.  Sama halnya dengan sebelumnya. Seiring bergantinya hari , paku-paku yang tertancap di papan belakang rumahpun kian berkurang jumlahnya. Satu demi satu paku-paku itu lepas dari tempatnya. Dan luar biasa,  semua paku yang pernah tertancap disana akhirnya habis di cabuti oleh sang anak.

Dan untuk ketiga kalinya sang ayah pun kembali berbicara berdua dengan sang anak. Sang ayah berkata pada anaknya

“Masih ingatkah kamu ketika dulu sering kali marah? Tiap kali kamu marah papan di belakang rumah semakin banyak ditancapi oleh paku.” Sang anak pun mengangguk mengiyakan perkataan sang ayah. Kemudian sang ayah melanjutkan perkataannya  “ dan masih ingatkah kamu ketika dulu kamu sering kali merasakan kebahagiaan? Ketika itu jumlah paku di papan belakang kian hari kian berkurang jumlahnya” sang anak pun kembali menganggukan kepala.

“ dan sekarang, apa yang kamu liat pada papan di belakang rumah tadi?” sang anak menatap papan tersebut dalam diam “ Yah, lubang. Ada begitu banyak lubang yang tersisa dipapan tadi. Anakku begitulah yang terjadi ketika kamu bersikap buruk pada orang lain, kamu seperti menancapkan paku di hati mereka. Ketika kamu menyadari perbuatanmu kemudian kamu meminta maaf atas sikapmu itu, seperti halnya kamu melepaskan paku tersebut dari hati mereka. Anakku meski kamu telah meminta maaf kepadanya hingga ia benar-benar memaafkanmu, ketahuilah bahwa masih ada seberkas luka yang tersisa di hatinya ketika kamu bersikap demikian. Kamu meninggalkan sebuah bekas luka yang tak pernah bisa kamu hapus sepanjang hidupnya.”

Begitulah ketika kita mengalami sakit hati, luka yang pernah tertancap dihati akan selalu berbekas walau kita telah mengikhlaskan itu semua. Wajar saja kalo panyanyi kita bilang “dari pada sakit hati lebih baik sakit gigi”, karena luka hati akan terus ada. Oleh karena itu mari kita terus berusaha menjadi diri kita yang terbaik, agar setiap hal yang kita lakukan adalah sikap yang terbaik bagi semuanya sehingga tak ada satu hatipun yang kita lukai.

Allahumma, thahir qulubana minan-nifaaq
wa ‘amaalana minar-riyaa’,
wa alsinatana minnal kadzib,
wa ‘ayunana minnal khiyaanah,
Innak t’alam khaa’inatal ‘ayun
wa ma tukhfis-shuduur.

 

“O Allah, purify our souls from hypocrisy,
our tongues from lying,
and our eyes from treachery.
You know the treacherous eyes
and what is buried in the hearts.”

One thought on “Kisah sebuah Paku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s