Equilibrium – Pemerintahan Doktrinasi Agama

Standar

Sinopsis

Film ini bercerita tentang John Preston (Bale), seorang warrior priest dan penegak hukum dari sebuah pemerintahan dystopia di masa depan. Sebuah pemerintahan yang dibentuk setelah terjadinya perang dunia ketiga. Pemerintahan tersebut melarang adanya perasaan dan seni dalam kehidupan masyarakatnya karena diyakini bahwa emosi dan seni adalah sumber utama terjadinya peperangan. Untuk itu setiap orang yang  berada di bawah kekuasaan pemerintahan tersebut diwajibkan untuk menggunakan obat yang bernama prozium setiap harinya. Obat yang berfungsi untuk menekan emosi penggunanya.

Suatu ketika John Preston bersama rekannya Patridge di kirim ke wilayah di luar Libria, dikenal dengan nama “Nether”. Keduanya diutus untuk menghabisi orang-orang yang telah melanggar peraturan Negara Libria. Orang-orang tersebut dieksekusi karena memiliki perasaan dan menggunakan karya seni yang dapat menstimulus perasaan mereka. Seiring dengan berjalannya cerita, terbukti bahwa fitrah manusia tidak dapat ditolak. Perasaan yang dimiliki merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia.

Sebuah negeri impian

Dari film Equilibrium ini digambarkan sebuah negeri impian yang ingin diciptakan untuk menghentikan konflik manusia yang terus terjadi. Sebuah negeri yang aman dan tentram namun tidak ada kebebasan ada setiap individunya. Semua orang harus seragam satu dengan yang lainnya, seperti halnya faham dari kaum sosialis. Namun ternyata keseragaman bukanlah jalan untuk menciptakan negeri impian tersebut karena pada dasarnya manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.“ (QS Al Hujurat 13)

Komunitas yang ideal atau masyarakat yang memiliki sistem sosio-politik-hukum yang diinginkan dikenal dengan sebutan Utopia. Gambaran dari sebuah negeri impian dimana semua sistem kehidupan berjalan beriringan dengan kehendak bebas yang dimiliki setiap manusia. Kata  Utopia sendiri memiliki keambiguan jika dilihat dari akar bahasa yunani sendiri, dimana Utopia dapat bermakna “tidak ada tempat” dan “tempat yang baik”. Utopia terdiri dari suku kata ou-, berarti “tidak ada” dan topos, berarti “tempat”. Tetapi homophonic awalan eu-, berarti “baik,”juga ada dalam kata Utopia, dengan implikasi bahwa “tempat yang baik” benar-benar “tidak ada”.

Sebuah negeri impian dimana ada tempat bagi berbagai macam manusia dengan bahasa, warna kulit, agama yang berbeda dapat hidup berdampingan. Bagi kebanyakan orang negeri seperti itu tidak pernah benar-benar ada. Suatu kemustahilan bisa ada negeri seperti itu. Apalagi dengan adanya agama yang tidak memberikan ruang khusus bagi kebebasan berfikir. Dalam film “Equilibrium” ini sangat jelas bentuk kritikan terhadap doktrin agama sebagaimana diperlihatkan dalam simbol-simbol dan istilah yang digunakan.

Jika memang ada agama yang benar berasal dari wahyu Tuhan maka agama tersebut harus dapat mewadahi fitrah yang dimiliki oleh manusia. Artinya agama tersebut memberikan kesempatan bagi kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia untuk bertindak serta memiliki pemahaman yang logis sehingga dapat difahami oleh nalar manusia. Namun memberikan batasan-batasan yang jelas bagi manusia karena adanya keterbatasan yang dimiliki oleh manusia.

Sehebat apa pun manusia tersebut dan sesempurna apa pun sistem yang manusia buat masih banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia karena manusia sendiri merupakan sebuah ciptaan. Sedangkan yang namanya ciptaan tidak akan pernah lebih baik dari pada yang menciptakannya dan Sang Pencipta pastinya  lebih mengetahui mana yang terbaik bagi ciptaannya. (Sun)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s